Menunggu

wahai kamu yang lebih samar dari bunyi ng ikhfa,
yang duduk,
mengayunkan kaki
tak sadarkah kamu dinanti dan diharap
agar gegas.

sementara seangguk senyum
tak mampu kuterjemah sebagai
idzhar yang jelas.

kamu nun bertasjid,
mendengungkan harap.

kadang menjelma mim,
dan masih mendengungkan harap . . . 







Artikel Terkait

Previous
Next Post »