Ketika Memilih Long Distance Marriage

by - Rabu, Februari 07, 2018

Yup, saya dan suami telah menjalani long distance marriage (LDM) dari awal kami menikah Oktober 2016 lalu. Suami di Jakarta dan saya di Cikampek, Karawang. Kurang lebih 3-4 jam perjalanan menggunakan kendaraan umum.

Waktu awal menikah, saya masih mengajar di salah satu SD swasta di Karawang. Hal itu yang menjadi alasan mengapa kami harus menjalani LDM. Tak lama menikah, saya positif hamil dan LDM berlanjut sampai saya melahirkan anak pertama kami dan hingga tulisan ini dibuat. Walaupun sekarang saya sudah tidak mengajar, tapi pertimbangan tempat tinggal di ibu kota yang kurang nyaman untuk ditempati kami bertigalah yang membuat kami harus terus memupuk sabar menjalani LDM.
Foto seminggu menikah dan harus ditinggal
Suami saya pulang setiap akhir pekan, walaupun kadang menjadi dua pekan saat suami memilih pulang ke kampung halamannya di Banten karena suatu keperluan. Dua pekan serasa setengah bulan. Berapapun hitungan harinya, yang namanya hidup dengan pasangan yang dipisahkan oleh jarak, yang ada rindu melulu.


Sebetulnya gak sepenuhnya seperti kata si Dipan (bukan nama sebenarnya), "rindu itu berat, kamu gak akan kuat, biar aku saja." Pada kenyataannya yang berat itu saat seminggu gak nyuci karena mesin cuci rusak, saat udah selesai ngebilas terus mau bawa ember cucian ke teras buat dijemur, pas embernya diangkat dan rasanya asli itu berat banget, mana saya LDM, gak ada suami buat angkut itu ember cucian (lol).

Hari-hari terasa lama bagi pasangan LDM seperti kami. Yang sebentar hanya paket nelpon 100 menit sehari seharga tiga ribu. Soalnya saya dan suami nelpon sehari bisa 3 x, 100 menit rasanya gak cukup.
Me time untuk pasangan LDM

Tapi dibalik kesusahan yang dialami pasangan LDM, ada seni indah yang bisa diukir setiap harinya. Seperti saling mengingat, merapal doa, saling merindui, menyimpan obrolan yang seakan tak pernah habis, dan tentu saja ada perjumpaan indah yang dinanti, bahkan masih dibumbui getaran-getaran bernama entah seperti pertama awal menikah.

Saya sadar LDM bukanlah keputusan terbaik, tapi saya yakin ini adalah salah satu perjuangan terbaik dari saya dan suami, demi masa depan kami nanti bersama anak-anak..

Salam.



You May Also Like

4 komentar

  1. Alhamdulillah terpisahnya gak terlalu jauh.

    BalasHapus
  2. Saya kenyang LDRan, Bekasi-Ambon, Bekasi-Makassar, membesarkan anak sendirian tanpa bapaknya dan campur tangan rese kedua orangtua rasanya pengen gantung diri saat itu lin huhuhuhu

    BalasHapus
  3. Semoga segera ngumpul ya, Mbaaa
    Itu yg terbaik emang xixixi
    Aamiin

    Saya sendiri pengalaman LDR (sebelum nikah) Bekasi - Malang 1 tahun (2007 - 2008)
    Truss Lampung - Malang 3 bulan (Januari 2012 - Maret 2012 lanjut Juni 2012 - Agustus 2012)
    Balikpapan - Malang (September 2016 - Juli 2017)
    Medan - Malang (Agustus 2017 - April 2018)
    Bukan sebuah prestasi kalau bagi kami, karena biar gimana2 enakan ngumpul. In syaa Allah ntr lagi ngumpul di... Papua :D
    Slebihnya selain LDM paling ditinggal dinas gitu, Mb

    Semangat selalu, Mb Lina

    Moga2 bisa nempel mulu kayak perangko y oneday (ngedoain diri sendiri jg wkkk)

    BalasHapus