Pengalaman Melahirkan Anak Pertama

by - Selasa, Februari 13, 2018

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih pada diri sendiri, yang awalnya malas buat nulis tapi akhirnya pengalaman melahirkan untuk pertama kali ini ditulis juga di blog. Huhuhu.. #lapKeringatDiDahi

Padahal harusnya berterima kasih sama Yang Maha pemberi kekuatan buat nulis dulu ya, siapa lagi kalau bukan Allah. Alhamdulillah ya Allah. Atas cinta-Mu yang tak terhingga :D

Oke, mungkin hampir semua wanita yang pernah melahirkan udah menceritakan perpuluh-puluh kali bahkan lebih tentang pengalaman melahirkannya tersebut. Baik secara menyeluruh maupun gak utuh. Secara abis lahiran banyak yang nengokin, mulai dari tetangga, sodara, temen-temen, orang yang kebetulan lewat dan ngeliat ada jemuran popok di teras rumah (lol). Begitu juga dengan saya. Padahal mah hampir udah bosen cerita yang sama berulang-ulang. Tapi ya mau gimana lagi, kan yang jenguknya beda-beda orang. Mau bikin konferensi pers dan minta ditayangin di TV atau youtube biar gak cape cerita ulang, tapi sejenak inget kalau siapa sih saya ini. Hahaha. #abaikan

Balik ke tujuan awal nulis blogpost ini, takut keburu bosen yang bacanya. Hehe. Awal ceritanya semenjak saya menikah dan gak mesti menunggu lama untuk hamidun alias hamil. Saya dan suami seneng banget dong, secara rezeki nomplok ih bisa merasakan hamil dan mau punya dede bayi. Ditambah usia saya saat itu udah 25++ ahahaha...pas lah ya, gak usah ditunda-tunda lagi biar sebelum 30 tahun rencananya udah punya dua anak. Aamiin.

Dari awal hamil saya rutin memeriksakan kandungan saya ke bidan deket rumah, namanya bidan Retno. Di awal-awal masih sebulan sekali, menginjak tujuh bulan ceknya jadi dua minggu sekali, kemudian seminggu sekali pas nginjek usia kandungan 8 bulanan gitu.

Di awal saya dan suami udah merencanakan tempat persalinan nanti. Awalnya saya pengin di bidan Retno aja karena udah biasa periksa di situ dan deket dari rumah, tapi mamah bilang di puskesmas juga nyaman. Yaudah pilihan pertama saya tulis puskesmas, pilihan kedua baru di bidan Retno. Tapi rencana hanya rencana, manusia bisa aja pilah-pilih mana yang dimau dan dianggap yang terbaik, tapi Allah yang lebih berhak pilihkan dan tentunya pilihan tersebut yang ter ter terbaik buat kita. Saya enggak lahiran di puskesmas maupun di bidan Retno, tapi di bidan Anggun.

Lima hari dari HPL tanggal 9 Juli tapi belum ada tanda-tanda mau lahiran, akhirnya bidan Retno ngerujuk saya ke dokter kandungan buat USG. Dari hasil USG itu kan bisa dilihat kondisi air ketubannya masih cukup atau tidak kalau mau menunggu beberapa hari, sekalian lihat kondisi plasentanya masih bagus atau udah gak layak, dari situ dokter bisa menentukam tindakan apa yang harus diambil. Ada dua kemungkinan, menunggu sampai dedenya 'ngajak' atau dibantu dengan cara induksi atau SC.

Dari penjelasan bidan aja udah bikin saya -ehem- grogi (baca: takut). Tapi mau gak mau saya pergi juga ke dokter kandungan di RS Saraswati Cikampek. Ditemenin suami mulai dari daftar bada maghrib kebetulan jadwal dokternya malem, nunggu antrian berjam-jam, sampai selesai periksa jam 11 malem. Asli bumil cuapekkk banget nunggu selama itu. Hasilnya? Dokternya gak enakeun banget, judes, sombong, dan ngomongnya asal jeplak jidat lo aja. Wkwkwkwk...pokoknya bikin sensi ampun dah gak akan periksa ke dokter itu lagi. 

Tapi walaupun dokternya nyebelin tapi saya tetap menghormati ilmu pengetahuannya. Hasil pemeriksaan malam itu dokter nyaranin untuk segera ambil tindakan. Karena air ketuban sudah mulai berkurang dan ada kekhawatiran dengan bayinya jika harus menunggu mules untuk lahiran secara alami.

Keesokan harinya dengan segenap kekuatan yang tersisa karena malemnya pakai drama nangis-nangis segala, yakali lumayan stress karena ini pengalaman pertama. Bertanya-tanya pada diri sendiri, kenapa eh kenapa dede bayi belum 'ngajak' juga. Padahal pola hidup sehat udah dijalanin, rajin jalan kaki pagi-sore, rajin ngepel jongkok. Tapi kok? Akhirnya saya memutuskan buat ke puskesmas siangnya. Sampai kelupaan kalau itu hari Sabtu dan puskesmas buka setengah hari aja. Dokter kandungam udah gak di tempat dong, dan akhirnya saya pulang lagi dengan tangan kosong.

Nyampe di rumah masih galau. Selesai masak dan makan saya pilih rebahan di kamar. Suami lagi kontakan sama adeknya yang lagi sama temennya yang kebetulan bidan. Sedikit konsultasi lewat WA dengan bidan itu, katanya lebih baik ke rumah sakit secepatnya, sama seperti saran dokter tadi malam.

Setelah membesarkan hati (lagi), saya menerima ajakan suami ke rumah sakit. Sebetulnya saat itu saya masih kayak gak terima, kenapa atuh belum mules. Gak mau induksi apalagi SC, amit-amit. Tapi ya mau gimana lagi, saya gak boleh egois, ada nyawa bayi saya yang dipertaruhkan kalau saya keras kepala gak mau ambil tindakan yang disarankan. Yaudah, bada maghrib saya dan suami ke RS Titian Bunda. Daftar dan bilang kalau minta diinduksi atas rujukam dokter. Masuklah saya ke ruang bersalin. Hanya ada bidan jaga dan mereka beberapa kali nelpon dokter kandungannya yang lagi libur karena (sekali lagi) itu hari Sabtu.

Bidan menyarankan buat rawat inap karena proses induksi baru bisa dilakukan jam 2 dini hari. Yaudah suami urus-urus lagi ke bagian administrasi. Sementara saya diambil sampel darah, urin, dan direkam detak jantung bayinya. Katanya detak jantung bayinya terlalu cepat, mungkin karena ibunya tegang a.k.a stress. Iya emang bener stres banget, dibilangin gak boleh stres juga da gimana atuh, sok kalau kamu yang ngalamin #eh apalagi ini pengalaman pertama saya masuk rumah sakit sebagai pasien. Seumur-umur belum pernah dirawat di rumah sakit XD

Setelah itu saya udah boleh masuk ruang inap buat istirahat, tapi sebelumnya nyempetin makan dan sholat isa dulu. Soalnya setelah itu katanya harus puasa sampai waktu induksi. Alhamdulillah suami selalu menemani, kita bobok seranjang berdua, udah kayak di rumah aja XD

Malam itu saya maupun suami gak bisa tidur nyenyak. Hampir setiap jam saya terbangun. Jam 2 dini hari udah kelewat tapi gak ada panggilan dari perawat untuk proses induksi. Sampai subuh tiba saya dan suami gantian sholat dan mandi. Perawat baru datang dan bawa saya ke ruangan untuk induksi jam 7 pagi. Etdah ngaret banget T.T
Bismillah, selang infus dipasang dan obat induksi disuntikkan. Sempat baca-baca kalau induksi itu mulesnya berkali-kali lipat dari mules lahiran tanpa induksi. Sejam berlalu tapi belum ada rasa mules, hanya saja pinggang sakit karena tidur dalam satu posisi gak ganti-ganti. Bidan masih bolak-balik ngecek, bertanya sudah ada mules apa belum. Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, tiga jam berlalu masih belum ada reaksi yang signifikan. Bidan nelpon dokter kandungan, katanya ambil tindakan saja!

Perintah dokter yang sebetulnya percakapan telponnya terdengar oleh saya dan suami, disampaikan oleh bidan. Karena tidak kunjung ada reaksi, maka harus segera dilakukan operasi, begitu ujarnya. Deg! Jujur hati saya hancur mendengar kalimat itu. Saya tanya suami gimana baiknya? Saya lihat suami juga bingung, beliau belum bisa memutuskan. Karena kami gak bisa langsung memutuskan, bidan sampai dua kali bolak-balik bertanya sambil menjelaskan alasan kenapa harus ambil tindakan operasi. Yang bikin tambah panik karena bidan tersebut meminta jawaban kami dengan buru-buru. Katanya harus operasi jam 12 siang itu juga, jadi keputusannya harus sekarang karena mereka harus mengontek dokter anestesi dan dokter kandungan karena hari itu Minggu dan mereka tidak ada di tempat.

Karena bidan yang menyampaikan terkesan tidak sabaran, kali ini bidan satunya lagi yang datang ke saya dan kembali menjelaskan. Namun bidan yang ini memberi opsi, kalau mau operasi keputusnya harus secepatnya, tapi kalau tidak berkenan silakan tanda tangam surat penolakan tindakan operasi. Saya dan suami berdiskusi. Suami bilang keputusan ada di tangan saya. Awalnya agak kesal juga karena sebetulnya saya kan minta pendapat suami, tapi jawabannya klise 'terserah'. 

Di sela waktu diskusi itu entah kenapa saya kepikiran buat menelepon orang tua murid yang berprofesi sebagai bidan, namanya bidan Anggun. Emang dari awal sempat direkomendasikan oleh salah satu guru untuk lahiran dengan beliau. Tapi saya menolak karena tempat prakteknya lumayan jauh, jadi saya pilih yang dekat. Di telpon, saya jelaskan maksud dan kondisi saya saat itu termasuk permintaan operasi dari RS. Beliau bilang lagi tidak ada di tempat, tapi kalau mau, boleh ke tempat prakteknya Senin pagi. Saya bilang mau dan beliau sempat menasihati untuk tenang, rileks, dan makan yang banyak. Setelah itu saya bilang ke suami, saya mau pulang dari sini (RS).

Setelah suami menandatangani surat penolakan tindakan operasi dan mengurus administrasi, kamipun pulang. Plong rasanya keluar dari RS itu. Rasanya saya tidak terima dengan apa yang mereka lakukan ke saya. Sempat berpikir kalau tindakan operasi ini memang sudah direncanakan dari awal. Tapi entahlah..

Seperti rencana sebelumnya, Senin pagi saya dan suami pergi ke bidan Anggun. Alamat prakteknya tidak terlalu sulit dicari, sekitar 1 km dari stasiun Cikampek. Sesampainya di sana saya langsung diperiksa. Detak jantung bayi bagus, posisi panggul juga bagus, dan kepala bayi sudah masuk panggul, katanya semuanya bagus. Tanpa diduga ketika dicek ternyata sudah pembukaan satu. Setelah dua hari menghadapi kalimat-kalimat 'menyeramkan' dari tenaga medis sebelumnya, kata-kata positif bidan Anggun sungguh membawa angin segar dan menumbuhkan rasa optimis bagi saya dan suami.

Proses induksi dimulai jam 9 pagi. Saya masih diperbolehkan untuk jalan-jalan di sekitaran klinik, sambil ngobrol dan bercanda dengan suami. Sejam kemudian obatnya mulai bereaksi. Dimulai dari sakit pinggang dan mules teratur sekitar setiap 5 menit.

Selang dua jam rasa mulasnya mulai terasa berkali-kali lipat. Saat dicek ternyata baru bukaan satu longgar dan sudah ada bercak darah di celana dalam. Saya memilih berbaring, tidur miring bergantian ke kiri dan kanan sambil menikmati mulesnya. Dua jam kemudian sudah bukaan 3. Satu jam berikutnya sudah bukaan 6 dan durasi mulasnya sudah semakin cepat, mungkin hanya satu menit sekali.

Hal yang saya syukuri adalah suami yang setia mendampingi. Menyuapi makan dan minum. Memijat punggung saya perlahan walaupun saya kurang suka dipijat suami, namun saya merasa nyaman saat yang memijat punggung saya bidan Anggun. Hehe.

Sekitar jam 3 rasa mules saya sudah tidak tertahankan. Rasanya sakit sekali, terlebih saat merasakan ada cairan hangat yang keluar dari jalan lahir. Saya tidak tahu apakah itu pipis, darah, atau air ketuban. Saat bilang ke bidan dan dicek, katanya sudah pembukaan 9 dan bidan langsung memanggil asistennya untuk melakukan proses persalinan.

Dengan panduan bidan saya coba buat ngeden, ah bahkan saya masih bingung ngimana caranya ngeden. Namanya juga pengalaman pertama, hehe.. Disemangatin katanya kepalanya udah kelihatan. Suami disuruh lihat dan bilang ke saya ayo dikit lagi, rambut dedenya udah kelihatan. Lumayan lama juga, tapi dede belum berhasil saya keluarkan, huhuhu.. Ya Allah ini gimana caranya? Dari awal saya terus-terusan nyebut nama Allah, istighfar setiap detik, gak putus-putus dan ini nolong banget kalau menurut saya. 

Mulesnya sempat hilang sama sekali, bu bidan bantu dengan menyuntikkan obat perangsang di pinggang saya, tapi butuh sekian menit sampai mules itu muncul lagi. Saya coba lagi, ayo kasihan kepala dedenya udah kejepit, kata bu bidan. Aduh, anak gw kejepit, pikir saya udah mau mewek. Usaha lagi ngejen yang baik dan benar, duh masih belum. Bu bidan bantu dengan sedikit sobekan, sempet ngeluh sakit, inget lagi istighfar lagi, dan brojolah anak pertama saya T.T

Baca juga: Welcome, Den Junior!

Saya merasakan sesuatu keluar dari jalan lahir, rasanya brejel-brejel gitu. Saya lihat bayi di tangan bu bidan. Saya terpana melihat bayi saya, bayi laki-laki putih bersih. Bayi saya gak nangis. Bu bidan menepunk-nepuk kakinya. Sekali dua kali gak juga nangis. Setelah tepukan ke sekian akhirnya bayi saya nangis. Duh, Allah. Alhamdulillah T.T

Selanjutnya bayi saya dibersihkan sama asisten bidan, sementara bu bidan mengelurkan plasenta dari perut saya. Brejel-brejel lagi rasanya.


Begitulah proses lahirnya anak pertama kami, Ibu Lina Astuti dan Ayah Muhamad Jaeni. Setelah mengandung selama 41 week 1 day. Launching pada Senin, 17 Juli 2017 jam 16:10 dengan berat 2,8 kg dan panjang 47 cm. Mungil ya? Karena emak dan bapaknya juga mungil dan imut-imut (silakan muntah). Tolong doakan semoga menjadi anak yang shalih dan penyejuk hati bagi orang tuanya. Aamiin.


You May Also Like

2 komentar

  1. Sepertinya saya salah kamar,ini kan untuk kaum ladies,tp gpp buat nambah wawasan hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah kaum laki2 juga gak apa2 mas. Nanti juga kan istrinya mengalami. Hehe

      Hapus