Hari Pembagian Rapor

by - Minggu, Desember 29, 2019

Sabtu kemarin dua keponakan saya datang ke rumah dalam kondisi dua-duanya menangis. Menurut informasi dari umminya yang mengekor kedua anak gadisnya tersebut, mereka rebutan sekotak kue bolu. Sang teteh yang kelas 2 SD pengin menjinjing pulang kue bolu dengan alasan kue itu adalah miliknya, karena dibeli atas janji umminya kalau teteh juara kelas lagi nanti dibelikan kue bolu. Sedangkan adiknya yang TK A tak mau kalah, berkali-kali bilang kalau itu punya dia. Setelah keduanya dilerai dan diberi penjelasan, akhirnya kue bolu itu dipotong dan dimakan sama-sama. Serumah jadi bisa menikmati kue bolu juara 1 yang rasanya juga juara (apalagi gratisan hehe.. ).

Bercerita tentang juara kelas, saya jadi teringat zaman waktu masih berseragam putih merah. Bukan karena saya selalu juara kelas, namun momen pembagian buku rapor masih dan mungkin akan selalu lekat di ingatan saya. 

Bagi rapor di zaman saya SD masih 3 kali dalam setahun, karena dulu namanya masih caturwulan. Kalau diingat tahunnya, maka teringat pula kalau sekarang saya sudah tak muda lagi. Lebih dari dua puluh tahun yang lalu dari pertama kali saya menerima buku bersampul merah tersebut. 

Hari pembagian rapor hampir selalu membuat hati saya gundah. Pagi-pagi setelah berseragam rapih dan menyiapkan sebungkus kue kering yang dibeli mama dari pasar, kue yang kemudian dibungkus sedemikian rupa menggunakan koran bekas namun rapih layaknya sebuah kado. Sebuah bingkisan kecil yang akan diberikan untuk wali kelas. Bingkisan sederhana sebagai ucapan terima kasih atas jasanya mengajar. 

Bagi saya, hari pembagian buku rapor bukan tentang hadiah yang diberikan karena mendapatkanrangking atau nilai bagus, tapi tentang keinginan membawa pulang rapor dan membukanya berulang-ulang selama liburan sekolah. Tapi itu jarang terjadi, karena rapor saya seringnya ditahan karena menunggak uang SPP. 


Cikampek,
Penghujung 2019

You May Also Like

0 komentar